Onadio Leonardo dan Peter Pan Syndrome, Apa Kata Ahli?

Peter Pan Syndrome mendadak viral di media sosial setelah penyanyi Onadio Leonardo mengaku mengalami kondisi ini. Mantan vokalis Killing Me Inside itu membagikan ceritanya saat tampil di beberapa podcast populer usai menyelesaikan tiga bulan masa rehabilitasi narkoba.

Pengakuan Onad langsung memicu perbincangan luas di kalangan warganet. Banyak orang penasaran tentang apa sebenarnya Peter Pan Syndrome dan bagaimana kondisi ini memengaruhi kehidupan seseorang yang sudah dewasa.

Para ahli kesehatan jiwa pun angkat bicara untuk memberikan penjelasan ilmiah. Mereka menegaskan bahwa Peter Pan Syndrome bukanlah diagnosis resmi, namun pola perilaku yang melatarbelakanginya tetap perlu mendapat perhatian serius.

Curhat Onadio: Mental Terjebak di Usia 20-an

Onadio Leonardo menjalani rehabilitasi selama tiga bulan penuh setelah di tangkap atas kasus penyalahgunaan narkoba pada 30 Oktober 2025. Ia resmi bebas dari panti rehabilitasi pada 28 Januari 2026.

Selama masa rehabilitasi, Onad rutin berkonsultasi dengan psikolog sebanyak dua kali dalam seminggu. Tiga psikolog menangani kasusnya secara bergantian. Dari rangkaian sesi konseling itulah terungkap bahwa ia mengidap kondisi yang dikenal sebagai Peter Pan Syndrome.

Onad menjelaskan kondisi tersebut dengan sangat gamblang saat berbincang dengan Denny Sumargo. Ia mengaku bahwa mentalnya terjebak di usia 20-an, masa yang ia anggap sebagai golden age dalam hidupnya.

Meski usianya sudah 35 tahun, memiliki istri dan anak, Onad menyadari bahwa ia menghadapi setiap masalah dengan pola pikir orang berusia 20 tahun. Ia merasa kebahagiaan terbesarnya terjadi di usia tersebut, sehingga secara tidak sadar ia menolak untuk berkembang melampaui masa itu.

Dalam podcast Deddy Corbuzier, Onad juga mengungkapkan bahwa awal mula permasalahannya terasa sangat sepele. Ia mengibaratkan pengalamannya mencoba narkoba seperti seseorang yang berpikir tidak memakai sabuk pengaman sekali saja tidak akan jadi masalah.

Namun pengalaman di panti rehabilitasi membuka matanya secara total. Ia menyaksikan langsung dampak narkoba pada banyak orang, termasuk mereka yang sampai lupa nama mereka sendiri. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Apa Sebenarnya Peter Pan Syndrome?

Peter Pan Syndrome mengambil namanya dari tokoh fiksi ciptaan J.M. Barrie pada 1902. Karakter Peter Pan menggambarkan seorang anak laki-laki ajaib yang tidak pernah menua dan menolak untuk tumbuh dewasa.

Dalam konteks psikologi, istilah ini menggambarkan orang dewasa yang secara emosional atau perilakunya tampak belum matang. Mereka menunjukkan ketidaksiapan dalam mengambil peran sebagai individu dewasa, mulai dari soal tanggung jawab, komitmen, hingga kemandirian.

Spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ menegaskan bahwa Peter Pan Syndrome bukanlah diagnosis psikologis resmi. Sindrom ini tidak tercantum dalam DSM-5 (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition) maupun PPDGJ 3 (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa).

Dengan kata lain, psikiater tidak bisa mencantumkan Peter Pan Syndrome sebagai diagnosis resmi dalam catatan medis pasien. Namun demikian, perilaku yang terkait dengan istilah ini sering kali beririsan dengan pola kepribadian tertentu, tingkat kematangan emosional, dan respons seseorang terhadap tanggung jawab hidup.

Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi juga memberikan penjelasan senada. Ia menyebut Peter Pan Syndrome sebagai label populer yang di berikan pada orang dengan kondisi tertentu agar lebih mudah di pahami masyarakat umum. Ini bukan penyakit dan bukan gangguan jiwa, melainkan penggambaran pola perilaku yang perlu di perhatikan.

Tiga Faktor Pemicu Utama

Menurut dr Lahargo, kondisi Peter Pan Syndrome di picu oleh tiga faktor kuat yang saling berkaitan. Memahami ketiga faktor ini penting untuk mengenali akar permasalahannya.

Faktor pertama adalah pola asuh orang tua. Orang tua yang terlalu permisif atau terlalu protektif dapat membuat anak kurang belajar tentang tanggung jawab. Ketika orang tua terus membantu anak menyelesaikan masalah tanpa menuntut kemandirian, mereka justru menghambat perkembangan emosional anak tersebut.

Sebuah penelitian bertajuk “Overprotecting Parents Can Lead Children to Develop Peter Pan Syndrome” memperkuat temuan ini. Pola asuh yang berlebihan dalam melindungi anak menciptakan individu yang tidak terlatih menghadapi tantangan dan konsekuensi dari keputusan mereka sendiri.

Faktor kedua berkaitan dengan kondisi psikologis individu. Orang yang merasa cemas, takut gagal, atau tidak siap menghadapi tekanan hidup dewasa cenderung menghindari tanggung jawab. Ketidaknyamanan emosional ini mendorong mereka untuk tetap berlindung dalam zona nyaman masa muda.

Faktor ketiga datang dari lingkungan. Dr Lahargo menyinggung bahwa pergaulan atau budaya yang memberikan nilai tinggi pada kebebasan, kesenangan, atau citra muda bisa mendorong seseorang menunda tanggung jawab dewasa. Tekanan sosial media yang mengagungkan gaya hidup tanpa beban juga berperan dalam memperkuat kecenderungan ini.

Tanda-tanda yang Perlu Di waspadai

Peter Pan Syndrome memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari sekadar sifat humoris atau santai. Psikoterapis Natacha Duke dari Cleveland Clinic Kanada menjelaskan bahwa kondisi ini berada dalam spektrum, sehingga dampaknya berbeda pada setiap individu.

Tanda paling mencolok adalah keengganan mengambil tanggung jawab. Orang dengan kondisi ini cenderung menghindari komitmen baik dalam hubungan maupun pekerjaan. Mereka lebih memilih melarikan diri dari konflik atau situasi yang tidak nyaman daripada menghadapinya.

Selain itu, mereka kerap menunjukkan sifat egosentris. Mereka menginginkan orang lain memahami dan membantu mereka, namun kesulitan melakukan hal yang sama untuk orang lain. Kepentingan pribadi selalu menjadi prioritas utama.

Kurangnya di siplin juga menjadi indikator kuat. Psikolog Anastasia Sari Dewi menyebutkan bahwa orang dengan kondisi ini sering kali tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan tugasnya sebagai individu dewasa. Mereka berjanji melakukan sesuatu, namun ketika saatnya tiba, mereka menghilang atau membuat alasan yang tidak masuk akal.

Ketergantungan pada orang lain merupakan tanda lain yang tidak boleh di abaikan. Seorang dewasa seharusnya sudah mampu hidup mandiri dan menentukan pilihan dengan konsekuensi yang menyertainya. Namun orang dengan Peter Pan Syndrome terus bergantung pada orang tua, pasangan, atau figur lain untuk menyelesaikan masalah mereka.

Pola pelarian diri melalui substansi juga sering muncul. Orang dewasa yang mengidap kondisi ini tidak jarang melarikan diri dengan mengonsumsi alkohol atau menyalahgunakan narkoba. Berpesta, banyak minum, dan bereksperimen dengan zat terlarang menjadi cara mereka menghindari realitas kehidupan dewasa.

Kaitan dengan Kasus Onadio Leonardo

Pengalaman Onadio Leonardo menjadi contoh nyata bagaimana Peter Pan Syndrome bisa berdampak serius jika tidak di tangani. Pola pelarian dirinya melalui narkoba menunjukkan hubungan erat antara ketidakmatangan emosional dan perilaku destruktif.

Onad mengakui bahwa ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah bukan lagi pemuda berusia 20-an. Meski secara fisik ia bertambah usia, secara mental ia tetap merespons kehidupan seperti saat masih muda. Ketidakselarasan ini menciptakan tekanan internal yang pada akhirnya mendorongnya ke jalan yang salah.

Tiga psikolog yang menangani kasusnya selama rehabilitasi membantu Onad memahami akar permasalahan ini. Proses konseling intensif dua kali seminggu membuka kesadarannya tentang pola pikir dan perilaku yang selama ini tidak ia sadari.

Kini Onad bertekad menjadi pribadi yang berbeda. Ia menyadari bahwa setiap tindakan selalu datang dengan konsekuensi yang tidak bisa di hindari. Pengakuannya secara terbuka tentang Peter Pan Syndrome juga menunjukkan keberanian untuk menghadapi masalah, bukan melarikan diri darinya.

Bukan Cuma Urusan Laki-laki

Meski istilah Peter Pan Syndrome sering di kaitkan dengan laki-laki, para ahli menegaskan bahwa perempuan juga bisa mengalami kondisi serupa. Nama lain untuk sindrom ini dalam konteks perempuan sering disebut sebagai Wendy Syndrome atau Cinderella Complex.

Namun para ahli memang berpendapat bahwa laki-laki memiliki tekanan yang lebih besar terkait kondisi ini. Sebagai individu yang secara sosial di harapkan menjadi kepala keluarga, pemberi contoh bagi anak, wakil keluarga di masyarakat, dan pencari nafkah, ketidakmatangan emosional pada laki-laki dewasa membawa dampak yang lebih luas.

Seseorang dengan Peter Pan Syndrome akan mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonal, pergaulan di masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Pola perilaku ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga berdampak pada orang-orang terdekat yang bergantung pada mereka.

Dalam jangka panjang, pola perilaku ini bisa merusak hubungan, menghambat karier, dan berdampak negatif pada kesehatan mental. Karena itu, seseorang tidak bisa terus hidup dalam mode kekanak-kanakan selamanya, setidaknya tidak jika hal tersebut menimbulkan masalah serius dalam kemampuan berfungsi secara umum.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Dr Lahargo memberikan kabar baik bahwa perilaku yang berkaitan dengan Peter Pan Syndrome bisa di kendalikan dan berkurang dengan penanganan yang tepat. Kuncinya terletak pada beberapa pendekatan yang di lakukan secara bertahap dan konsisten.

Psikoterapi menjadi langkah utama dalam mengatasi kondisi ini. Terapis biasanya fokus pada perkembangan emosional, keterampilan hidup, dan hubungan interpersonal. Pendekatannya bukan menyembuhkan sindrom secara literal, melainkan membangun kapasitas individu untuk berfungsi sebagai orang dewasa yang matang.

Dukungan lingkungan yang tepat juga memegang peranan krusial. Keluarga dan orang terdekat perlu memahami kondisi ini tanpa bersikap menghakimi, namun juga tanpa terus memfasilitasi perilaku yang tidak dewasa. Keseimbangan antara empati dan ketegasan sangat di perlukan.

Salah satu faktor pemulihan yang paling penting menurut dr Lahargo adalah kesadaran dari individu itu sendiri. Tanpa pengakuan bahwa ada masalah yang perlu di perbaiki, tidak ada terapi yang akan efektif. Dalam kasus Onad, kesadarannya selama rehabilitasi menjadi titik balik yang krusial.

Selain itu, beberapa langkah praktis juga bisa membantu. Menetapkan tujuan hidup yang konkret, belajar mengelola keuangan secara mandiri, berlatih mengambil keputusan dan menanggung konsekuensinya, serta membangun rutinitas yang di siplin menjadi bagian dari proses pendewasaan emosional.

Spektrum Perilaku: Tidak Semua Kekanak-kanakan Bermasalah

Penting untuk memahami bahwa Peter Pan Syndrome berada dalam spektrum. Natacha Duke mengingatkan bahwa apa yang menjadi masalah bagi sebagian orang belum tentu bermasalah bagi orang lain.

Seorang dewasa yang masih suka bermain game, bercanda, atau memiliki hobi yang dianggap kekanakan tidak otomatis mengidap Peter Pan Syndrome. Selama perilaku tersebut tidak mengganggu kemampuannya berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan.

Masalah muncul ketika pola perilaku ini memengaruhi setidaknya satu area penting dalam kehidupan. Misalnya ketika seseorang tidak mampu mempertahankan pekerjaan, gagal menjalin hubungan yang sehat, atau terus bergantung secara finansial pada orang lain tanpa upaya untuk mandiri.

Batas antara kepribadian yang santai dan kondisi yang perlu ditangani terletak pada dampak fungsionalnya. Jika perilaku kekanak-kanakan sudah menghambat pertumbuhan pribadi, merusak hubungan, atau mendorong seseorang ke perilaku destruktif seperti penyalahgunaan zat, maka sudah saatnya mencari bantuan profesional.

Pelajaran dari Kisah Onadio Leonardo

Pengakuan terbuka Onadio Leonardo tentang Peter Pan Syndrome membawa dampak positif yang lebih luas dari sekadar cerita personal. Keberaniannya membuka diri menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memahami isu kesehatan mental yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Banyak orang mungkin mengalami kondisi serupa tanpa menyadarinya. Mereka merasa ada yang tidak beres dalam cara mereka menjalani hidup, namun tidak memiliki kerangka untuk memahami apa yang terjadi. Istilah Peter Pan Syndrome, meski bukan diagnosis resmi, membantu memberikan nama pada pengalaman tersebut.

Selain itu, kisah Onad juga menggarisbawahi pentingnya layanan kesehatan mental dalam proses rehabilitasi. Tanpa sesi konseling rutin dengan psikolog, akar permasalahan yang lebih dalam mungkin tidak akan pernah terungkap. Penanganan narkoba semata tanpa mengatasi kondisi psikologis yang mendasari hanya akan menjadi solusi sementara.

Yang paling penting, Onad menunjukkan bahwa mengakui kelemahan bukan berarti kalah. Justru sebaliknya, kesadaran diri menjadi langkah pertama dan terpenting menuju perubahan. Dengan memahami bahwa mentalnya terjebak di masa lalu, ia kini memiliki peta jalan untuk melangkah ke depan sebagai individu yang lebih matang dan bertanggung jawab.

Bagi siapa pun yang merasa mengalami pola serupa, pesan dari para ahli sangat jelas. Jangan ragu mencari bantuan profesional. Psikolog dan psikiater memiliki alat dan pendekatan yang tepat untuk membantu seseorang membangun kematangan emosional yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dewasa secara penuh dan bermakna.

Tulisan ini dipublikasikan di Berita dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *