Psikolog ungkap fenomena klien stres jadi WNI karena kondisi negara yang di anggap tidak ideal. Curhatan seorang psikolog klinis di Yogyakarta bernama Lya Fahmi mendadak viral di media sosial setelah menceritakan pengalaman uniknya mendampingi pasien dengan keluhan yang tidak biasa.
Fenomena ini menjadi perbincangan hangat karena mencerminkan kondisi psikologis sebagian masyarakat Indonesia saat ini. Banyak warganet mengaku merasakan hal serupa, lelah dan putus asa menjadi warga negara Indonesia.
Pengalaman Pertama Selama 7,5 Tahun Berkarier
Pengalaman pertama selama 7,5 tahun berkarier sebagai psikolog membuat Lya Fahmi terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapatkan klien dengan keluhan yang sangat berbeda dari biasanya.
“Baru kali ini terjadi selama 7,5 tahun karirku sebagai psikolog, dua klien berturut-turut datang bukan karena masalah pribadi, tapi distress karena negara,” tulis Lya dalam unggahannya di Instagram pada Senin, 15 Desember 2025.
Postingan tersebut langsung mendapat respons luar biasa dari publik. Lebih dari 100 ribu pengguna Instagram memberikan tanggapan terhadap curhatan Lya tersebut.
Lya mengaku tidak menduga postingannya akan viral seperti itu. Ia sebenarnya hanya ingin menyalurkan emosi yang terkuras setelah mendampingi klien dengan kondisi yang cukup berat.
Klien Datang Langsung Menangis
Klien datang langsung menangis dan mengungkapkan rasa putus asa sebagai warga negara Indonesia. Kondisi emosional yang sangat intens tersebut membuat Lya merasa ada yang berbeda dari sesi konseling biasanya.
“Aku tau kesehatan mental itu berkaitan erat dengan isu struktural, tapi biasanya klien nggak menyadari itu. Lha ini datang-datang langsung nangis,” ungkap Lya menceritakan pengalamannya.
Salah satu klien menyampaikan keluhannya dengan sangat emosional. Ia merasa sangat kecewa dengan cara pemerintah menangani berbagai persoalan di tanah air.
“Kalau ngeliat cara pemerintah menangani korban bencana Sumatera, aku merasa seolah rakyat ini nggak ada harganya. Nggak di dengarkan, di abaikan pula. Putus asa banget rasanya jadi WNI,” kata klien tersebut seperti yang di tirukan Lya.
Narasi dari Dunia Maya Masuk ke Ruang Konseling
Narasi dari dunia maya ternyata masuk ke ruang konseling secara nyata. Lya mengaku selama ini mengira keluhan tentang sulitnya menjadi WNI hanya ramai di media sosial semata.
“Aku kira narasi menderita sebagai WNI itu cuma di dunia maya. Tapi ternyata sampai ke ruang konselingku juga,” tulisnya mengungkapkan keterkejutannya.
Pengakuan tersebut membuat Lya tersadar bahwa kekecewaan masyarakat terhadap kondisi negara bukan sekadar keluhan biasa di internet. Fenomena ini sudah menjadi masalah psikologis yang nyata bagi sebagian orang.
Kali ini Lya melihat perbedaan yang sangat mencolok. Kedua kliennya datang dengan kesadaran penuh bahwa kondisi negara mempengaruhi kesejahteraan emosional mereka secara langsung.
Klien Berikan Cokelat untuk Psikolog
Klien berikan cokelat untuk psikolog setelah sesi konseling selesai. Gestur sederhana tersebut justru membuat Lya semakin menyadari betapa beratnya beban emosional yang di tanggung kliennya.
“Abis konseling, kliennya ngasih cokelat. Katanya, untuk memperbaiki moodku yang pasti jadi jelek karena lihat dia marah-marah sama pemerintah,” cerita Lya dalam postingannya.
Namun Lya merespons dengan jujur kepada kliennya. Ia mengaku bahwa bukan sang klien yang membuat suasana hatinya buruk, melainkan kondisi yang sama-sama mereka rasakan.
“Bukan kamu yang bikin mood-ku jelek, Mbak. Inkompetensi pemerintah yang membuatku merasa berada dalam mental state yang sama juga,” tulis Lya mengungkapkan perasaannya.
Psikolog Juga Ikut Merasakan Kelelahan
Psikolog juga ikut merasakan kelelahan emosional yang sama. Lya mengaku emosinya ikut terkuras setelah mendampingi klien yang datang dengan luapan kemarahan dan tangisan.
Ia merasa berada dalam kondisi mental yang serupa dengan kliennya. Kekecewaan terhadap berbagai persoalan di negeri ini ternyata juga mempengaruhi kesejahteraan psikologis sang psikolog sendiri.
“Aku nggak menduga postingan yang ini viral. Sebenarnya aku nulis gini karena butuh menyalurkan emosi yang terkuras,” kata Lya menjelaskan alasan membuat postingan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis akibat kondisi sosial dan politik tidak hanya di alami masyarakat awam. Para profesional kesehatan mental pun merasakan dampak yang sama.
Respons Warganet yang Merasa Senasib
Respons warganet yang merasa senasib membanjiri kolom komentar postingan Lya. Banyak netizen mengaku mengalami perasaan serupa dengan klien yang di ceritakan sang psikolog.
“Sepertinya saya juga, stres sendiri tiap baca berita bikin ngelus dada, ada saja gebrakannya,” tulis salah satu netizen berbagi pengalaman.
Warganet lainnya juga menyampaikan kondisi yang di alaminya. Masalah finansial yang sudah berat di tambah dengan berita negatif tentang pemerintah membuat tekanan semakin bertumpuk.
“Aku punya beban berat di finansial, belakangan makin berat lihat negara kek gini,” timpal netizen lain dalam kolom komentar.
Kisah Chasty: Lelah Jadi WNI Satu Tahun Terakhir
Kisah Chasty menjadi salah satu contoh nyata fenomena ini. Karyawan swasta berusia 27 tahun di Jakarta ini mulai merasa lelah menjadi WNI dalam satu tahun terakhir.
Meski kondisi tersebut tidak sampai membuatnya berkonsultasi ke psikolog, apa yang di hadapinya kerap mengganggu keseharian. Bayang-bayang ketidakpastian selalu menghantuinya.
“Meskipun aku sudah punya pekerjaan, tetap saja ada bayang-bayang rasa nggak aman karena temenku juga belakangan banyak kena PHK, akhirnya nganggur, dan susah banget cari kerja,” curhat Chasty kepada media.
Chasty merasa sangat sulit membayangkan masa depan yang cerah di Indonesia. Biaya hidup dan pendidikan yang terus naik membuatnya pesimis.
“Dengan kondisi kayak gitu menurut aku rasanya kayak nyaris mustahil buat dapet masa depan yang layak, bangun keluarga, hidupin anak suatu hari nanti, karena biaya hidup sama biaya pendidikan naik terus, nggak sebanding sama apa yang kita rasain, laluin,” ceritanya.
Kisah Risa: Stres di Tengah Kehamilan
Kisah Risa menambah deretan cerita serupa. Di tengah kondisi hamil empat bulan, stres kerap melanda akibat paparan berita negatif terkait pemerintah.
Kondisi kehamilan yang seharusnya di jaga dengan baik justru terganggu oleh kecemasan akan masa depan. Risa merasa khawatir dengan kondisi negara yang akan di wariskan kepada anaknya kelak.
Seperti Chasty, Risa juga bermimpi bisa lahir sebagai warga negara lain. Jepang menjadi salah satu negara idaman yang sering di bayangkannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kelelahan emosional sebagai WNI tidak mengenal usia atau kondisi. Siapa pun bisa mengalaminya, termasuk ibu hamil yang seharusnya menjaga kesehatan mentalnya.
Hubungan Kesehatan Mental dan Isu Struktural
Hubungan kesehatan mental dan isu struktural memang sudah lama di akui dalam kajian psikologi. Lya Fahmi menjelaskan bahwa kebijakan negara memiliki keterkaitan erat dengan kondisi psikologis individu.
Namun biasanya klien yang datang ke ruang konseling tidak menyadari langsung sumber tekanan tersebut. Mereka sering mengeluhkan masalah pribadi tanpa melihat kaitan dengan kondisi sosial politik.
“Aku tau kesehatan mental itu berkaitan erat dengan isu struktural, tapi biasanya klien nggak menyadari itu,” jelas Lya.
Kali ini berbeda. Kedua klien Lya datang dengan kesadaran penuh bahwa kondisi negara menjadi pemicu utama tekanan psikologis yang mereka rasakan.
Stres Politik Mempengaruhi Kesejahteraan
Stres politik mempengaruhi kesejahteraan mental masyarakat secara signifikan. Paparan stres politik yang terus-menerus dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan dan depresi.
Penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan tentang peristiwa politik sehari-hari membangkitkan emosi negatif pada individu. Hal ini berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mental, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kerentanan.
Bagi individu dengan kondisi gangguan kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi, isu politik dapat memberikan dampak yang lebih besar. Mereka lebih sensitif terhadap berita negatif.
Para ahli menyebut kondisi ini sebagai “stres politik” yang sulit dijamah dan diprediksi masyarakat awam. Masyarakat hanya bisa menerima dampaknya tanpa kemampuan untuk mengubah sumber tekanan.
Penderitaan Kolektif Butuh Penanganan Kolektif
Penderitaan kolektif butuh penanganan kolektif juga. Lya Fahmi menegaskan bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan konsultasi ke psikolog secara individual.
“Penderitaan kolektif harus ditangani secara kolektif juga. Kemarahan terhadap negara solusinya bukan curhat ke psikolog saja. Percuma, psikolognya sudah stres juga,” tutur Lya dengan jujur.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa akar masalah berada pada level yang lebih besar dari sekadar individu. Perubahan sistemik diperlukan untuk mengatasi tekanan psikologis yang dialami masyarakat.
Lya menilai masyarakat membutuhkan ruang untuk bertemu dan saling terhubung. Solidaritas menjadi kunci untuk menghadapi tekanan bersama-sama.
Pentingnya Dukungan Sosial
Pentingnya dukungan sosial ditekankan Lya Fahmi dalam pesannya kepada masyarakat. Ia mengingatkan agar individu tidak memikul beban emosional sendirian.
“Cari teman di sekitar kalian. Jangan jalan sendiri. Jangan sakit hati sendiri,” pesannya kepada warganet yang merasakan hal serupa.
Bertemu, saling melihat, saling mendengar, dan mengungkapkan isi hati dapat membantu individu menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Perasaan kebersamaan tersebut memberikan kekuatan tersendiri.
“Dengan merefleksikan pengalaman emosi secara bersama-sama, solidaritas akan terbentuk. Dan solidaritas selalu efektif memberi kita rasa kekuatan,” tulisnya.
Jangan Meremehkan Diri Sendiri
Jangan meremehkan diri sendiri menjadi pesan penting dari Lya Fahmi. Ia menyoroti perasaan tidak berarti yang kerap muncul pada individu yang dilanda keputusasaan.
“Buat kalian yang merasa kecil dan tidak berarti, jangan pernah meremehkan diri kalian sendiri. Semua suara itu penting, sekecil dan selirih apa pun,” tegasnya.
Lya mengingatkan agar perasaan tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi sikap meremehkan diri sendiri. Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga negara.
Menurutnya, setiap warga negara yang hidup di Indonesia memiliki kontribusi penting asalkan mau berjejaring dan bekerja sama dengan orang lain.
Cara Mengatasi Stres Politik
Cara mengatasi stres politik perlu dipahami oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan mental. Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
Pertama, tetapkan batasan yang sehat untuk diri sendiri. Kendalikan informasi yang dikonsumsi dan tetapkan apa yang bisa dilakukan dalam situasi tersebut.
Kedua, batasi paparan terhadap berita negatif. Terus-menerus membaca berita negatif dapat melelahkan dan membangkitkan emosi negatif yang tidak perlu.
Ketiga, prioritaskan perawatan diri seperti menghabiskan waktu di alam, berolahraga secara teratur, menjaga pola makan sehat, dan cukup tidur.
Manfaatkan Koneksi Sosial
Manfaatkan koneksi sosial sebagai pendorong kebahagiaan dan ketahanan mental. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial menjadi faktor paling kuat dalam menentukan kebahagiaan sepanjang hidup.
Ketika berjuang melawan dampak politik terhadap kesehatan mental, penting untuk memanfaatkan koneksi tersebut untuk mendapatkan kekuatan. Berhubungan dengan orang lain yang merasakan hal sama dapat membantu proses pemulihan.
Mencari perspektif dari mentor atau orang yang dipercaya juga bisa menjadi langkah positif. Dukungan dari orang terdekat memberikan energi untuk menghadapi tekanan.
Jika diperlukan, akses bantuan dari profesional kesehatan mental. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu mengelola emosi dengan lebih baik.
Kondisi Kesehatan Mental di Indonesia
Kondisi kesehatan mental di Indonesia memang menjadi perhatian serius. Data menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional cukup tinggi di masyarakat.
Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6,1 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Sementara itu, laporan UNDP 2021-2022 menyebutkan bahwa pencapaian pembangunan manusia secara global mengalami kemunduran. Kondisi ini dipengaruhi faktor akumulasi ketidakpastian yang menimbulkan gejolak pada kehidupan manusia.
Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022 mencatat 15,5 juta atau 34,9 persen remaja mengalami masalah mental. Dari jumlah tersebut, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling.
Akses Layanan Kesehatan Mental Masih Terbatas
Akses layanan kesehatan mental masih terbatas di Indonesia. Meski kebutuhan perawatan mental sangat tinggi, pemanfaatan layanan kesehatan mental masih tergolong rendah.
Biaya konsultasi dengan profesional kesehatan mental tergolong mahal dan belum inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Perhatian pada kesehatan mental dan fisik belum setara dalam jaminan kesehatan nasional.
Stigma negatif tentang gangguan mental juga masih kuat di masyarakat. Hal ini membuat banyak orang enggan mencari bantuan profesional meski sebenarnya membutuhkan.
Kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental dapat menghambat seseorang untuk mencari pertolongan. Edukasi yang lebih luas sangat diperlukan.
Refleksi dari Fenomena Viral
Refleksi dari fenomena viral ini memberikan pelajaran penting bagi semua pihak. Kesehatan mental tidak berdiri sendiri sebagai persoalan individu, melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan rasa keadilan.
Curhatan Lya Fahmi membuka diskusi lebih luas tentang hubungan antara kebijakan publik dan kesejahteraan psikologis masyarakat. Pemerintah perlu mempertimbangkan dampak kebijakannya terhadap kesehatan mental warga.
Fenomena “capek jadi WNI” bukan sekadar keluhan di media sosial. Ini adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam tata kelola negara dan hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya.
Bagi masyarakat yang merasakan hal serupa, penting untuk tidak memendam perasaan sendirian. Mencari dukungan sosial dan berbagi dengan orang yang dipercaya dapat membantu meringankan beban emosional yang dirasakan.