ISPA dan Penyakit Kulit Serang Pengungsi Banjir Sumatera
Krisis kesehatan membayangi ratusan ribu pengungsi bencana banjir di Sumatera. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit kulit menjadi dua masalah kesehatan yang paling banyak menyerang warga di lokasi pengungsian.
Kondisi lingkungan yang memburuk pascabencana berdampak langsung pada kesehatan para penyintas. Pemerintah memprioritaskan layanan kesehatan bagi kelompok rentan, mulai dari bayi, balita, hingga lansia.
Ratusan relawan dokter dan tenaga kesehatan telah bergerak ke titik-titik terdampak. Mereka memperkuat penanganan medis di lapangan, terutama di wilayah Aceh yang menjadi provinsi paling parah terkena bencana.
Data Kasus Penyakit di Tiga Provinsi
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 35.975 pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terserang ISPA. Data per Selasa 23 Desember 2025 menunjukkan lonjakan kasus yang signifikan di ketiga provinsi.
Sumatera Utara mencatat kasus ISPA terbanyak dengan 15.682 kasus. Aceh menyusul dengan 12.095 kasus, sementara Sumatera Barat mencatat 8.198 kasus.
Selain ISPA, penyakit menular lainnya juga mengalami peningkatan drastis. Di Aceh tercatat 10.022 kasus penyakit kulit dan 1.669 kasus flu.
Sementara itu, Sumatera Utara mencatat 12.693 kasus penyakit kulit dan 2.424 kasus diare. Sumatera Barat melaporkan 2.872 kasus penyakit kulit dan 445 kasus diare.
Lonjakan tersebut menunjukkan kondisi pengungsian yang belum sepenuhnya aman dari ancaman wabah penyakit.
Rincian Kasus di Setiap Provinsi
Data Kemenkes periode 25 November hingga 21 Desember 2025 menunjukkan pola serupa di ketiga provinsi. ISPA menempati urutan pertama dengan total 11.168 kasus di Aceh.
Masalah kesehatan terbanyak berikutnya di Aceh meliputi penyakit kulit dengan 9.610 kasus, diare 1.795 kasus, dan gastritis 1.488 kasus.
Di Sumatera Utara, penyakit kulit justru menjadi keluhan utama dengan total 10.102 kasus. ISPA menyusul dengan 8.758 kasus, diare 1.703 kasus, dan Influenza-Like Illness (ILI) 971 kasus.
ISPA kembali mendominasi di Sumatera Barat dengan 8.316 kasus hingga 20 Desember 2025. Selain penyakit infeksi, muncul juga gangguan kesehatan tidak menular seperti hipertensi 3.766 kasus, penyakit kulit 2.792 kasus, dan gastritis 1.916 kasus.
Faktor Penyebab Lonjakan Penyakit
Kondisi pengungsian yang padat dan sanitasi yang belum memadai menjadi faktor utama meningkatnya kasus penyakit. Keterbatasan air bersih memperparah situasi kesehatan di lapangan.
Kepala Lembaga Kesehatan PBNU, Zulfikar, menjelaskan bahwa virus mudah menular dalam kondisi fisik pengungsi yang tidak baik. Daya tahan tubuh yang menurun memperbesar risiko sakit dan memperluas penyebaran penyakit.
“Kalau ISPA, flu, diare, dan penyakit kulit, penyebab utamanya adalah virus yang mudah menular, apalagi dalam kondisi fisik pengungsi yang tidak baik. Kita tahu kondisi wilayah terdampak saat ini memang tidak baik-baik saja,” ujarnya.
Zulfikar menegaskan bahwa krisis air bersih menjadi persoalan mendasar yang belum tertangani secara optimal di kawasan pengungsian. Kesulitan air berdampak langsung pada kebutuhan dasar seperti minum, mandi, dan kebersihan lingkungan.
Kondisi di Lapangan
Tim medis di lapangan menemukan banyak warga mengalami berbagai keluhan kesehatan. Selain ISPA dan penyakit kulit, relawan juga menangani kasus cedera, luka infeksi, dan diare.
Di Aceh Tamiang, relawan menemukan banyak warga mengalami cedera kaki akibat tertusuk paku, pecahan kaca, dan benda tajam. Sebagian luka bahkan sudah mengalami infeksi.
Ketua IDAI Sumatra Utara, dr. Eka, menggambarkan kondisi pengungsian yang memprihatinkan. Lingkungan yang padat, lembap, serta terbatasnya akses air bersih dan sanitasi menjadi faktor utama meningkatnya kasus ISPA pada anak.
“Seperti yang sering terjadi di daerah pengungsian, ISPA menjadi penyakit yang paling banyak kami temukan, kemudian disusul penyakit kulit dan diare,” ujar dr. Eka.
Tim kesehatan IDAI Sumatra Utara telah memberikan layanan kepada ribuan anak di berbagai wilayah terdampak banjir. Lebih dari 4.500 anak telah mendapatkan pelayanan kesehatan melalui pos kesehatan pengungsian maupun layanan mobile clinic.
Keterbatasan Air Bersih
Krisis air bersih menjadi salah satu pemicu utama masalah kesehatan di lokasi pengungsian. Banyak warga terpaksa menggunakan air hujan untuk kebutuhan memasak dan mandi.
Di beberapa lokasi, warga bahkan sudah beberapa hari tidak mandi karena tidak ada air bersih. Kondisi ini memperparah penyebaran penyakit kulit dan infeksi lainnya.
“Ada yang sudah beberapa hari belum mandi karena air bersih tidak ada,” ungkap dr. Ilham dari tim medis Sulawesi Selatan yang bertugas di Pidie Jaya.
Distribusi air bersih terus dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah Aceh telah menyalurkan 2.568.350 liter air bersih menggunakan 21 unit truk tangki di delapan kabupaten/kota.
Potensi Kejadian Luar Biasa
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis, memperingatkan bahwa jika tidak dilakukan intervensi cepat, penyakit ini berpotensi berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Kondisi ini dipengaruhi oleh paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang menurun, serta kepadatan dan kelembapan di lokasi pengungsian,” katanya.
Pemerintah Aceh juga memberikan perhatian serius terhadap potensi peningkatan penyakit menular di lokasi pengungsian. Tuberculosis (TBC) dan campak menjadi dua penyakit utama yang diwaspadai.
Asisten I Setda Aceh, M. Syakir, selaku Koordinator Klaster Kesehatan, menyampaikan bahwa terdapat 9.204 penderita TBC di wilayah terdampak bencana. Kondisi pengungsian yang padat dan mobilitas warga yang tinggi meningkatkan risiko penularan.
Upaya Penanganan Kesehatan
Pemerintah mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani krisis kesehatan di lokasi bencana. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengirimkan sedikitnya 1.500 dokter serta 1.000 tenaga medis dan kesehatan.
Menristekdikti Brian Yuliarto menjelaskan bahwa pengiriman dilakukan secara bertahap dengan sistem rotasi setiap dua minggu.
“Sebanyak 1.500 dokter, tenaga medis, dan juga tenaga kesehatan 1.000 itu kami akan kirimkan secara bergantian setiap dua minggu,” kata Brian.
Di Aceh, relawan kesehatan yang sudah berada di lapangan berjumlah 126 orang. Pada awal Januari 2026, Kementerian Kesehatan berencana menambah sekitar 600 relawan.
Layanan kesehatan melalui Health Emergency Operational Center (HEOC) telah menjangkau 6.073 orang dengan total kunjungan medis mencapai 71.764 kali.
Kolaborasi Perguruan Tinggi
Berbagai perguruan tinggi turut berkontribusi dalam penanganan kesehatan korban banjir. Tim medis dari Universitas Andalas, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Muhammadiyah Malang bergerak ke lapangan.
Universitas Brawijaya dan UMM mengirimkan 55 relawan dengan fokus memberikan pelayanan kesehatan darurat. Mereka juga menyalurkan air bersih menggunakan teknologi penjernih air karya UB.
“Total personel yang diberangkatkan terdiri dari 16 dosen, 10 tenaga kependidikan, 2 mahasiswa spesialis, 14 mahasiswa,” ujar Kepala Tim Tanggap Bencana Sumatera, dr. Aurick Yudha Nagara.
Tim membawa bantuan berupa obat-obatan, logistik, sembako, peralatan dapur umum, peralatan edukasi, serta kebutuhan darurat pengungsi seperti tenda darurat dan peralatan pengolahan air bersih senilai lebih dari Rp1,5 miliar.
Layanan Mobile Clinic
Tim medis menjalankan layanan mobile clinic untuk menjangkau warga di daerah-daerah terpencil. Mereka harus menempuh medan berat, menggunakan kendaraan khusus hingga helikopter, untuk mencapai wilayah terisolasi.
Di Pidie Jaya, tim medis dari Sulawesi Selatan menangani rata-rata 100-150 pasien setiap hari. Mereka memberikan pelayanan mobile clinic, kunjungan rumah, dan membantu layanan operasi di rumah sakit.
Formasi tim mencakup dokter spesialis penyakit dalam, spesialis anestesi, spesialis anak, dan perawat. Ini memungkinkan penanganan yang komprehensif bagi para penyintas.
“Kehadiran tim kami menjadi napas tambahan bagi rumah sakit,” ujar dr. Ilham.
Penanganan Kesehatan Mental
Selain penyakit fisik, tim medis juga menemukan adanya gangguan psikologis dan trauma pada pengungsi, terutama anak-anak. Pendampingan psikososial dan trauma healing menjadi bagian penting dari penanganan.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menekan peningkatan penyakit di lokasi bencana.
“Anak-anak yang terdampak bencana tidak hanya mengalami masalah kesehatan fisik, tetapi juga trauma psikologis. Ini menjadi bagian penting dari penanganan kami di lapangan,” jelasnya.
Upaya penanganan meliputi penyediaan layanan kesehatan, akses air bersih, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah lonjakan kasus ISPA dan diare.
Dukungan dari Berbagai Pihak
Pertamina Peduli turut menerjunkan relawan dan mendirikan posko medis di lokasi bencana. Di Kota Sibolga, posko medis di Terminal BBM Sibolga beroperasi setiap hari dan melayani rata-rata 70 warga per hari sejak 12 Desember 2025.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan relawan aktif memberikan layanan kesehatan, bantuan kebutuhan dasar, serta dukungan darurat bagi masyarakat terdampak.
“Melalui pergerakan relawan di lapangan, Pertamina Peduli hadir langsung di tengah masyarakat, memastikan penanganan kemanusiaan tidak hanya berfokus pada logistik, tetapi juga pada keselamatan dan kesehatan warga terdampak,” tambahnya.
Di Aceh Tamiang, Pertamina secara rutin mengerahkan tiga truk tangki air masing-masing berkapasitas 7.000 liter untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga di dua desa terdampak.
Dampak Bencana yang Masif
Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatera sejak 25 November 2025. Hingga 25 Desember 2025, BNPB mencatat 1.135 orang meninggal dunia dan 173 orang masih hilang.
Rincian korban tewas meliputi 503 orang di Aceh, 371 orang di Sumatera Utara, dan 261 orang di Sumatera Barat. Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 489.864 jiwa.
Bencana ini juga merusak 157.838 unit rumah, terdiri atas 47.165 unit rusak berat, 33.276 unit rusak sedang, dan 77.397 unit rusak ringan. Selain itu, 1.600 fasilitas umum, 967 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung atau kantor, dan 219 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.
Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai Rp68,67 triliun.
Pembenahan Lokasi Pengungsian
LK PBNU menekankan pentingnya penanganan terpadu dan pembenahan kawasan pengungsian sebagai langkah pencegahan penyebaran penyakit.
“Tempat-tempat pengungsian harus dibenahi. Jika ada kumpulan masyarakat di lokasi pengungsian, maka kawasan itu harus dipersiapkan dengan baik dan terpadu,” ujar Zulfikar.
Sekda Aceh, M. Nasir, menekankan agar Klaster Kesehatan bekerja cepat dan bersinergi dengan klaster lain. Prioritas utama adalah memastikan sanitasi dan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi guna mencegah penularan penyakit.
Saat ini, 740 dapur umum melayani 438.804 jiwa di Aceh. Jumlah tersebut lebih besar dari angka pengungsi karena juga melayani warga yang belum dapat memasak di rumah masing-masing.
Kendala di Lapangan
Tim medis menghadapi berbagai kendala dalam memberikan layanan kesehatan. Akses transportasi dari posko ke desa-desa terpencil menjadi tantangan utama.
Kendala distribusi obat dan terputusnya akses jalan membuat peran tim relawan semakin vital dalam menjaga layanan tetap berjalan.
Tim EMT Universitas Muhammadiyah Makassar yang bertugas di Aceh Tamiang mencatat 156 pasien dari berbagai kelompok usia dalam satu hari layanan. Mereka menjangkau warga dari tiga kampung yang sebelumnya sulit mendapat akses kesehatan.
“Selama ini banyak warga mengalami gangguan kesehatan, tetapi belum bisa ke puskesmas karena akses dan keterbatasan layanan mobile. Karena itu, kami mendekatkan layanan langsung ke masyarakat,” ujar relawan EMT Unismuh Makassar, Ihsan.
Penyaluran Logistik Kesehatan
Pemerintah Aceh telah menyalurkan berbagai logistik kesehatan untuk mendukung layanan medis. Bantuan meliputi obat-obatan dan bahan medis habis pakai, makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil, serta vitamin A.
Paket kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui juga disiapkan. Tim medis memberikan layanan pemeriksaan kehamilan bagi warga di lokasi pengungsian.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, mengatakan logistik perobatan masih sangat dibutuhkan untuk para korban bencana di lokasi pengungsian.
Harapan Pemulihan
Upaya penanganan kesehatan pascabanjir harus dilakukan secara berkelanjutan. Risiko penyakit seperti ISPA dapat meningkat jika kondisi pengungsian tidak segera membaik.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan sektor swasta menjadi kunci dalam memastikan bantuan tepat sasaran, efektif, dan efisien.
Para pengungsi membutuhkan tidak hanya pengobatan, tetapi juga pemulihan menyeluruh agar dapat kembali ke kehidupan normal. Penanganan bencana ini menjadi momentum untuk membangun sistem mitigasi yang lebih kuat di masa depan.
Dengan kerja sama semua pihak, diharapkan krisis kesehatan di lokasi pengungsian dapat segera teratasi. Para penyintas banjir Sumatera membutuhkan dukungan berkelanjutan hingga mereka benar-benar pulih dari dampak bencana ini.